Archipelagic & Islands State (AIS) Forum 2019 di Manado – PUWSI Powertalk

Wisata Selam Berkelanjutan Harus Didukung oleh SDM Unggul MANADO, 31 Oktober 2019 – Pariwisata bahari Indonesia, khususnya wisata minat khusus selam, membutuhkan sumber daya manusia berkualitas untuk mendukung pertumbuhan sektor industri ini semakin berkembang pesat dalam 5 tahun terakhir. Selain kualitas skill atau keahlian khusus, tenaga kerja industri selam rekreasi harus sekaligus memiliki kesadaran lingkungan untuk menjamin kelestarian laut.

Di sela-sela penyelenggaraan acara berskala internasional tingkat menteri, Archipelagic & Islands State (AIS) Forum 2019 di Manado dengan salah satu agenda khusus ekowisata bahari, Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI) memberikan perhatian khusus tentang pentingnya mempersiapkan sumber daya manusia di sektor selam rekreasi karena peluang penyerapan tenaga kerja yang semakin terbuka. Kami mengapresiasikan Kementrian Kordinator Kemaritiman dan juga UNDP dengan adanya Forum Resmi ini. Kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas ini sejalan dengan pertumbuhan pariwisata bahari.

Data Kementerian Pariwisata menyebutkan potensi bisnis selam rekreasi bahkan mencapai 35% dari total nilai potensi wisata bahari di dalam negeri yang diperkirakan mencapai US$ 4 miliar. Karena itu, Kementerian Pariwisata juga telah menerbitkan peraturan menteri untuk mendukung pertumbuhan bisnis ini melalui Peraturan Menteri Pariwisata No.7/2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Wisata Selam Rekreasi. Apalagi, wisata minat khusus ini merupakan kegiatan ekstrim yang dilakukan di alam terbuka dan memerlukan penanganan secara khusus. Misalnya, syarat adanya sertifikasi bagi wisatawan selam maupun pemandu wisata dan operator. Frans Rattu, Ketua Laboratory Dive Manado yang juga pengajar di Politeknik Negeri Manado, mengatakan orang-orang yang bekerja di industri diving ini adalah mitra utama bagaimana industri wisata selam akan dikembangkan. Tanpa kualitas yang sesuai dengan ketentuan dan tidak memiliki kesadaran akan lingkungan, akan sulit mengharapkan wisata bahari yang maju dan ramah lingkungan. “Instruktur diving dan sumber daya manusia yang bekerja di sektor ini adalah ambassador atau duta bagi laut. Mereka yang akan mengajarkan bagaimana menyelam dengan baik sekaligus menjaga laut,” katanya di sela-sela AIS Forum di Kawasan Megamas Manado.

Politeknik Negeri Manado adalah satu-satunya lembaga pendidikan tinggi yang memiliki jurusan khusus wisata selam yang hanya menerima sedikitnya 24 siswa setiap tahunnya. Frans Rattu, yang juga instruktur trainer selam kawakan ini, mengakui seluruh siswa lulusan didikannya terserap di berbagai daerah. Bahkan, Frans sebagai Koordinator Wilayah Destinasi Sulawesi Utara PUWSI mengaku semakin kewalahan memenuhi permintaan akan tenaga kerja berkualitas dari para pengusaha atau operator selam. Ketua Umum PUWSI Ricky Soerapoetra mengatakan Manado memiliki potensi untuk menjadi contoh pembangunan industri selam berkelanjutan dengan daya tarik Taman Nasional Bunaken dan dukungan pembangunan sumber daya manusia dari Politeknik Negeri Manado. Dengan adanya perhatian dari pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah industri selam rekreasi dapat bertumbuh secara berkelanjutan, mengingat adanya peraturan yang dapat menguntungkan semua pihak terutama pelaku industri lokal. Operator selam yang telah berafiliasi kepada lembaga standarisasi telah banyak di temukan di Indonesia dan wisatawan wajib memiliki sertifikasi selam yang memenuhi standar pendidikan selam rekreasi sesuai dengan Peraturan Menteri Pariwisata No.7/2016 sebelum melakukan kegiatan penyelaman. “Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan musim tropis yang panjang maka dunia juga sudah menyadari bahwa Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati bawah laut yang tinggi, maka tugas industri adalah menjaga keberlanjutan usaha dengan menjaga alam sekitarnya. Tidak hanya menjaga alam dan potensi usaha yang ada, namun industri wajib mengutamakan keselamatan bekerja dan kenyamanan wisatawan.” Pariwisata sudah menjadi tulang punggung pendapatan daerah sehingga wisata bahari khususnya selam rekreasi, wajib dikembangkan bersama secara profesional. “Kami berharap seluruh mitra baik dari pemerintah, asosiasi, LSM dan pelaku usaha itu sendiri dapat bekerja sama untuk kepentingan industri wisata selam secara berkelanjutan.” Khususnya di Sulawesi Utara dengan daya tarik Taman Nasional Bunaken, data Dinas Pariwisata Sulawesi Utara menyebutkan kunjungan wisatawan mancanegara untuk wisata selam naik lebih dari 500% dalam 5 tahun terakhir. Dari tahun 2015 tercatat hanya 27.059 orang, melambung menjadi 127.879 orang dalam waktu 3 tahun saja. Tanpa pendekatan wisata selam yang ramah lingkungan, kondisi ini akan menjadi boomerang bagi Bunaken. Sementara itu, saat ini Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang disahkan oleh Presiden Joko Widodo sehingga peluang ekonomi daerah dan nasional akan terbuka untuk mengembangkan wisata bahari di daerah ini. “Dengan adanya pengembangann KEK, besar harapan saya tekanan terhadap alam di Taman Nasional Bunaken dapat teredam. Keberadaan KEK akan memecah wisatawan yang saat ini terkonsentrasi hanya di satu kawasan. Intervensi manusia pada alam yang tidak terkendali akan secara langsung berdampak terhadap alam itu sendiri. Pada akhirnya, akan merusak daya tarik pariwisata di daerah itu sendiri. “ Pemerintah pusat dan daerah sebagai pemangku kepentingan utama juga perlu memperketat pengawasan daya tampung kawasan wisata sehingga kunjungan turis tidak berdampak langsung pada perusakan alam. “Kami meminta pemerintah daerah memiliki kebijakan khusus untuk mengatur kunjungan wisatawan di satu tempat dengan mempertimbangkan daya tampung daerah itu sendiri. Karena kekayaan alam yang berlimpah dengan didukung oleh pengelolaan oleh sumber daya manusia yang unggul akan menghasilkan manfaat untuk semua pihak,“ tambah Ricky. (end)

Untuk informasi lebih lanjut : Ricky Soerapoetra, Ketua Umum +6281274112888 infopuwsi@gmail.com www.puwsi.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *