All posts by admin

INSENTIF PAJAK UNTUK WAJIB PAJAK TERDAMPAK PANDEMI COVID-19

Pemerintah menerbitkan peraturan menteri keuangan untuk memperluas insentif pajak untuk sektor pariwisata. Sebelumnya, sektor pariwisata belum masuk dalam insentif pajak yang diberikan sebagai bagian stimulus ekonomi menghadapi pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia.

Keringanan pajak bagi sektor wisata ini adalah salah satu wujud komitmen pemerintah membantu pelaku usaha. Meskipun, hal ini masih belum cukup menolong roda perekonomian bisnis wisata yang nyaris berhenti total.

PUWSI hingga saat ini masih berkoordinasi dengan sejumlah kementerian terkait untuk memberikan usulan sehingga seluruh pelaku usaha wisata selam mendapat perhatian dari pemerintah.

Berikut adalah salinan Peraturan Menteri Keuangan No.44 Tahun 2020 tentang insentif pajak untuk wajib pajak yang terdampak pandemi
Corona Virus Disease 2019.

HASIL SURVEY INDUSTRI DIVING TERDAMPAK COVID-19

Status per April 2020

Hasil dari survey jejak pendapat PUWSI terhadap pelaku industri Wisata Selam khususnya dan industri wisata pada umumnya.

PUWSI terus membuka jejak pendapat dan menerima masukan terkait usaha bersama untuk ‘recovery’ dan penanggulangan kondisi sulit industri pariwisata selam terkait pandemi covid-19 .

PUWSI berharap masukan yang uptodate dan terkini serta progresive untuk menjadi dasar strategi penanggulangan bersama dan masukan kepada pihak terkait , termasuk pemerintah dan stake holder lainnya.

SIARAN PERS PUWSI

SIARAN PERS                          
Untuk diterbitkan segera.

JEDA AKTIVITAS DI SEKTOR WISATA SELAM INDONESIA UNTUK BUMI

Pandemi COVID-19 memukul pelaku usaha wisata

JAKARTA, 13 April 2020 -Terhitung sudah lebih dari 1 (satu) bulan, pandemi COVID19 melanda Indonesia dan mempengaruhi seluruh lini kehidupan masyarakat, tak terkecuali pelaku usaha wisata selam di dalam negeri. Usaha wisata nyaris berhenti total dan menyebabkan peningkatan jumlah tenaga kerja yang dirumahkan.

Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI) memperhatikan sejak merebaknya virus Corona di Wuhan, China, sektor wisata sudah langsung terdampak. Apalagi, turis asal China merupakan salah satu pasar utama wisata bahari, khususnya selam, di Indonesia. Pelaku usaha semakin merasakan dampak virus ini pada periode akhir Februari hingga awal Maret di mana pembatasan perjalanan dan sejumlah penutupan destinasi wisata mulai diberlakukan oleh otoritas nasional maupun setempat.

Survey PUWSI kepada anggota, yang merupakan para pelaku usaha wisata selam, menemukan adanya permintaan pembatalan perjalanan (trip) mencapai 40% hanya dalam waktu 1 bulan. Akibatnya, muncul potensi penambahan jumlah pekerja yang akan dirumahkan. Setidaknya 25% pelaku usaha memastikan akan mengurangi jumlah tenaga kerja untuk menekan biaya operasional usaha.

Meskipun belum dapat menyebutkan secara rinci nilai kerugian pelaku usaha wisata selam, angka ini diperkirakan akan semakin membengkak hingga miliaran rupiah jika situasi ini tidak segera membaik. Padahal, sebanyak 40% pelaku usaha menanggung kredit perbankan sehingga perlu ada dukungan pemerintah maupun pihak terkait untuk meringankan beban pengusaha.

“Kami sangat memahami bahwa pandemi ini memicu masalah ekonomi baru. Tatanan kehidupan manusia berubah, dari yang sebelumnya bebas bepergian menjadi harus berdiam di rumah. Ini adalah pukulan berat bagi sektor wisata. Banyak tempat wisata, destinasi pariwisata dan bahkan lokasi selam ikut ditutup sementara hingga waktu yang belum dapat ditentukan,” kata Ricky Soerapoetra, Ketua Umum PUWSI, di Jakarta pada hari ini Senin, 13 April 2020.

Ricky menyampaikan rasa prihatin yang mendalam kepada korban COVID-19. Ini tidak dialami oleh segelintir orang saja, tetapi kita semua harus bersama-sama melalui masa sulit ini. Namun, kesulitan yang kita hadapi sekarang ini sebenarnya adalah hal positif bagi bumi. Alam sudah cukup memberi ruang dan sumber daya yang melimpah bagi manusia.

Terbukti, setelah hampir semua manusia di bumi ini mengurangi aktivitasnya akibat pandemi global, langit kembali cerah, polusi udara berkurang, laut dan terumbu karang ikut beristirahat dari tekanan intervensi manusia.

Solusi Sementara

Menghadapi situasi saat ini di mana semua orang diminta untuk mengurangi aktivitas, usaha wisata selam masih memiliki harapan untuk tetap bergerak dengan memanfaatkan solusi teknologi. Hampir seluruh agensi yang menawarkan kursus selam dan menerbitkan sertifikasi sudah memiliki layanan belajar daring (online) dari level dasar hingga profesional.

“Dive Center yang menjadi anggota PUWSI masih dapat melayani permintaan kursus selam melalui online. Masyarakat masih dapat mengakses kursus selam dengan sertifikasi dari berbagai agensi di seluruh dunia yang mengacu kepada Peraturan Menteri Pariwista dan Ekonomi Kreatif Nomor. 7 Tahun 2016 terkait pedoman pelaksanaan usaha wisata selam. PUWSI berafiliasi dengan beragam Usaha Wisata Selam yang wajib memiliki standar pelatihan Internasional (ISO/EU/WRSTC/CMAS/WUF), masyarakat dapat memilih usaha wisata selam di daerahnya masing masing agar tetap dapat mendukung usaha lokal dimana masyarakat tinggal,” kata Ricky. Untuk informasi lebih lanjut, dapat dilihat di website asosiasi kami http://www.puwsi.org.

Bagi masyarakat umum, mengikuti kursus selam atau belajar daring dapat menjadi salah satu pengisi kegiatan yang bermanfaat dan baik untuk pengembangan skill dan kesehatan mental saat harus berdiam di rumah selama periode karantina nasional. Ke depan, setelah situasi membaik, masyarakat dapat kembali menikmati keindahan laut di seluruh Indonesia.

Sedangkan bagi pengusaha, solusi sementara ini setidaknya dapat digunakan untuk tetap menjalankan roda usaha. Namun, PUWSI meminta Kementerian Pariwisata dan instansi lainnya yang terkait wisata bahari, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), juga memberikan perhatian khusus kepada pelaku usaha dan tenaga kerja di sektor wisata selam yang menjadi bagian dari 13 juta pekerja sektor pariwisata.

Selama ini, industri wisata sudah menjadi salah satu penopang devisa dan pendapatan negara yang utama. Untuk itu, PUWSI meminta pemerintah segera memberikan solusi efektif untuk menekan dampak kerugian finansial yang dialami pengusaha wisata selam. PUWSI memberikan sejumlah usulan yang dapat membantu pelaku usaha wisata selam, yaitu :

1. Pemberian fasilitas kredit usaha khusus atau bantuan modal kepada pelaku usaha wisata selam, sebagai dana talangan di masa sulit ini sekaligus persiapan memulai kembali usaha setelah wabah mereda.

2. Pembelian di depan paket-paket wisata yang ditawarkan oleh anggota PUWSI untuk dijadwalkan perjalanan wisatanya setelah wabah mereda.

3. Mempercepat lelang dan realisasi proyek pengadaan jasa dan produk terkait wisata bahari dan pekerjaan bawah laut di lingkup pemerintah, untuk kemudian dapat dijadwalkan pengerjaannya setelah wabah mereda.

4. Tetap melakukan promosi destinasi wisata, misalnya dengan menggelar pameran/eksebisi secara daring dan memberikan kesempatan kepada pelaku usaha untuk dapat berpartisipasi sehingga tetap dapat melakukan penjualan paket-paket wisata.

Ricky menegaskan pengurus PUWSI memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan bantuan sekuat tenaga bagi anggota. “Kami berusaha untuk selalu dapat memberikan informasi, bantuan dan advokasi bagi masa depan usaha selam Indonesia agar dapat kembali bangkit dari masa gelap ini.” (end)

Untuk informasi lebih lanjut :
Ricky Soerapoetra, Ketua Umum PUWSI +
62 812 7411 2888
infopuwsi@gmail.com
www.puwsi.org

Tentang PUWSI :
Didasari oleh Undang-undang No.10/2009 tentang Kepariwisataan, pasal 22 mengenai pentingnya peran asosiasi dalam kegiatan usaha kepariwisataan. Maka pada tahun 2015 beberapa pengusaha wisata selam berkumpul untuk membentuk asosiasi sebagai wadah dari usaha wisata selam di Indonesia. Keinginan untuk bisa merangkul seluruh pelaku usaha wisata selam di Indonesia, akhirnya terbentuklah Musyawarah Nasional Pertama pada Tanggal 15 Juni 2015. Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI) yang berdiri berdasarkan Akta Notaris No.11 Tanggal 28 Desember 2015. Perkumpulan dibentuk untuk bisa melindungi kepentingan pelaku usaha selam di Indonesia, memberi solusi permasalahan yang muncul dalam industri wisata selam, dan bisa menjembatani pelaku usaha industri wisata selam dengan pemerintah. Saat ini, PUWSI memiliki anggota sekitar 110 dive center yang tersebar di seluruh Indonesia.

Belajar Menyelam (Scuba Diving) Dari Rumah?

Menyelam identik dengan air. Tapi bagi Anda yang belum pernah menjajal betapa menyenangkannya dengan alat scuba, maka sekarang adalah saat yang tepat. Karena belajar menyelam sekarang bisa dilakukan di mana saja. Bahkan, tanpa air!

Indonesia adalah salah satu Negara tujuan wisata selam dunia. Dari Sabang sampai Merauke, bawah laut Indonesia menampilkan keanekaragaman hayati dan terumbu karang beraneka warna. Ribuan jenis ikan dan biota laut, dari yang hanya seujung jari hingga sebesar truk pun ada. Indonesia bahkan menjadi bagian dari jantung karang dunia (coral triangle). Nah, untuk menikmati itu semua salah satunya adalah dengan scuba diving.

Scuba diving atau menyelam dengan alat scuba adalah aktivitas ekstrim yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sudah menempuh kursus menyelam secara khusus dan mengantongi sertifikasi dari agensi penyelaman yang diakui secara internasional dan sesuai dengan standar dunia.

Lalu, belajar menyelam tanpa air bagaimana bisa? Teknologi menjawabnya. Dengan merebaknya virus COVID-19 di seluruh dunia yang berpotensi mengubah tatanan kehidupan manusia, teknologi menyelamatkan aktivitas manusia yang terganggu. Salah satunya, fasilitas belajar menyelam secara daring yang dapat dilakukan di mana saja, termasuk di rumah Anda sendiri.

Memulai kursus

Secara umum pada kondisi normal, kursus scuba diving meliputi 3 tahap, yaitu teori atau kelas, praktek di kolam renang, dan uji praktek di laut terbuka. Tahap pertama, pembelajaran teori berisi tentang pengetahuan secara khusus tentang penggunaan teknis alat scuba, teknik penyelaman dan kimia diving. Menyelam dengan scuba maupun perangkat lainnya berpotensi menimbulkan risiko-risiko khusus. Karena itu seorang diver harus memiliki pengetahuan khusus tentang kegiatan yang dilakukannya. Misalnya, efek tekanan yang bertambah 1 atm per 10 meter, pengaruh nitrogen terhadap tubuh, dan sebagainya.

Kedua, praktek di kolam renang atau confine water. Kegiatan di kolam renang ini dilakukan agar setiap diver dapat mempraktekkan secara langsung semua SOP dari teori yang telah dipelajari sebelum melakukan kegiatan sebenarnya di laut terbuka. Ketiga, adalah melakukan uji kegiatan di laut terbuka. Jika dapat melalui seluruh tahapan ini, maka seorang murid kursus diver akan mendapatkan sertifikasi. Dengan license ini, seseorang sudah dianggap mampu mengikuti kegiatan ekstrim scuba diving.

Dalam kondisi saat kita semua hanya bisa berdiam di rumah, dengan bantuan teknologi internet dan perangkat daring, kursus scuba diving dapat tetap dilakukan. Hampir seluruh agensi yang dapat mengeluarkan sertifikasi menyelam telah mengeluarkan fasilitas kursus secara daring, baik dari level pemula sampai dengan level professional.

Bahkan kemajuan teknologi saat ini, kegiatan kelas dan teori dapat dilakukan secara daring sepenuhnya. Beberapa materi kursus diving juga didesain secara khusus atau disebut juga kursus “kering”, misalnya kelas Nitrox dan Science of Diving. Dengan cara ini, peserta dapat menyelesaikan sertifikasinya tanpa melalui tahap diving di laut terbuka dan atau kolam renang.

Konten digital

Menyikapi perubahan sosial di masyarakat yang kini dihimbau agar dilakukan social distancing, sejumlah agensi diving bahkan telah mencanangkan materi kelas atau teori wajib dilakukan secara daring. Tetap dengan asisten instrukturnya, siswa harus masuk ke laman atau aplikasi mobile untuk dapat mengakses materi-materi teori kursus. Materi kursus berisi modul berupa video, audio, dan text atau tulisan, untuk menggantikan kursus sebelumnya yang dilakukan secara tatap muka antara siswa dan instrukturnya. Agensi tidak lagi menyediakan buku dan menggantinya dengan konten digital.

Komunikasi antara siswa dan instruktur tetap dapat terjadi. Sejumlah platform komunikasi daring saat ini sudah banyak tersedia, baik conference call, video call, bahkan meeting online pun sudah dapat dilakukan untuk menggantikan tatap muka secara fisik. Komunikasi antara siswa dan instruktur tetap harus terjadi setelah siswa belajar secara daring mandiri sebelum dilanjutkan praktek di kolam renang jika situasi memang sudah memungkinkan.

Bagi Anda yang tertarik untuk mengisi waktu di rumah saat ini dengan mengikuti kursus scuba diving secara daring, dapat mendaftarkan diri langsung ke Dive Center atau instruktur scuba diving. Pilihlah Dive Center yang berafiliasi dengan agensi yang telah memiliki kualifikasi yang baik dan sudah memenuhi standard internasional (ISO) dan standar dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI) dapat menjadi referensi bagi Anda untuk memilih tempat kursus yang baik. Saat ini PUWSI memiliki 82 anggota pelaku usaha (Dive Center) yang tersebar di seluruh Indonesia. Seluruh sertifikasi diving yang dikeluarkan oleh perusahaan-perusahaan yang telah menjadi anggota PUWSI ini adalah sertifikasi Internasional yang dapat diterima di seluruh dunia dengan standar yang tinggi.

Nah, menarik bukan? Di saat Anda memiliki banyak waktu di rumah seperti saat ini, Anda dapat menambah keahlian khusus seperti menyelam. Sehingga pada saatnya nanti wabah COVID-19 mereda dan Anda sudah bisa kembali melakukan perjalanan, lautan Indonesia sudah menanti Anda untuk menawarkan keindahannya.

Cara ini juga bisa menjadi salah satu solusi untuk Anda tetap membantu para pekerja di sektor wisata bahari, khususnya selam yang terpukul dengan adanya pandemi ini.

Industri selam rekreasi nyaris mati karena pembatasan perjalanan. Saat ini hampir seluruh tempat wisata telah secara resmi ditutup untuk menghindari peyebaran virus tersebut. Labuan Bajo, Raja Ampat dan bahkan Kepulauan Seribu pun tidak dapat dikunjungi wisatawan. Karena itu, dengan mengikuti kursus diving secara daring maka Anda ikut membantu menyelamatkan wisata selam dari situasi yang sulit ini. (end)

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi member kami di : http://puwsi.org/industri/

Archipelagic & Islands State (AIS) Forum 2019 di Manado – PUWSI Powertalk

Wisata Selam Berkelanjutan Harus Didukung oleh SDM Unggul MANADO, 31 Oktober 2019 – Pariwisata bahari Indonesia, khususnya wisata minat khusus selam, membutuhkan sumber daya manusia berkualitas untuk mendukung pertumbuhan sektor industri ini semakin berkembang pesat dalam 5 tahun terakhir. Selain kualitas skill atau keahlian khusus, tenaga kerja industri selam rekreasi harus sekaligus memiliki kesadaran lingkungan untuk menjamin kelestarian laut.

Di sela-sela penyelenggaraan acara berskala internasional tingkat menteri, Archipelagic & Islands State (AIS) Forum 2019 di Manado dengan salah satu agenda khusus ekowisata bahari, Perkumpulan Usaha Wisata Selam Indonesia (PUWSI) memberikan perhatian khusus tentang pentingnya mempersiapkan sumber daya manusia di sektor selam rekreasi karena peluang penyerapan tenaga kerja yang semakin terbuka. Kami mengapresiasikan Kementrian Kordinator Kemaritiman dan juga UNDP dengan adanya Forum Resmi ini. Kebutuhan akan sumber daya manusia yang berkualitas ini sejalan dengan pertumbuhan pariwisata bahari.

Data Kementerian Pariwisata menyebutkan potensi bisnis selam rekreasi bahkan mencapai 35% dari total nilai potensi wisata bahari di dalam negeri yang diperkirakan mencapai US$ 4 miliar. Karena itu, Kementerian Pariwisata juga telah menerbitkan peraturan menteri untuk mendukung pertumbuhan bisnis ini melalui Peraturan Menteri Pariwisata No.7/2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Wisata Selam Rekreasi. Apalagi, wisata minat khusus ini merupakan kegiatan ekstrim yang dilakukan di alam terbuka dan memerlukan penanganan secara khusus. Misalnya, syarat adanya sertifikasi bagi wisatawan selam maupun pemandu wisata dan operator. Frans Rattu, Ketua Laboratory Dive Manado yang juga pengajar di Politeknik Negeri Manado, mengatakan orang-orang yang bekerja di industri diving ini adalah mitra utama bagaimana industri wisata selam akan dikembangkan. Tanpa kualitas yang sesuai dengan ketentuan dan tidak memiliki kesadaran akan lingkungan, akan sulit mengharapkan wisata bahari yang maju dan ramah lingkungan. “Instruktur diving dan sumber daya manusia yang bekerja di sektor ini adalah ambassador atau duta bagi laut. Mereka yang akan mengajarkan bagaimana menyelam dengan baik sekaligus menjaga laut,” katanya di sela-sela AIS Forum di Kawasan Megamas Manado.

Politeknik Negeri Manado adalah satu-satunya lembaga pendidikan tinggi yang memiliki jurusan khusus wisata selam yang hanya menerima sedikitnya 24 siswa setiap tahunnya. Frans Rattu, yang juga instruktur trainer selam kawakan ini, mengakui seluruh siswa lulusan didikannya terserap di berbagai daerah. Bahkan, Frans sebagai Koordinator Wilayah Destinasi Sulawesi Utara PUWSI mengaku semakin kewalahan memenuhi permintaan akan tenaga kerja berkualitas dari para pengusaha atau operator selam. Ketua Umum PUWSI Ricky Soerapoetra mengatakan Manado memiliki potensi untuk menjadi contoh pembangunan industri selam berkelanjutan dengan daya tarik Taman Nasional Bunaken dan dukungan pembangunan sumber daya manusia dari Politeknik Negeri Manado. Dengan adanya perhatian dari pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah industri selam rekreasi dapat bertumbuh secara berkelanjutan, mengingat adanya peraturan yang dapat menguntungkan semua pihak terutama pelaku industri lokal. Operator selam yang telah berafiliasi kepada lembaga standarisasi telah banyak di temukan di Indonesia dan wisatawan wajib memiliki sertifikasi selam yang memenuhi standar pendidikan selam rekreasi sesuai dengan Peraturan Menteri Pariwisata No.7/2016 sebelum melakukan kegiatan penyelaman. “Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan musim tropis yang panjang maka dunia juga sudah menyadari bahwa Indonesia menyimpan keanekaragaman hayati bawah laut yang tinggi, maka tugas industri adalah menjaga keberlanjutan usaha dengan menjaga alam sekitarnya. Tidak hanya menjaga alam dan potensi usaha yang ada, namun industri wajib mengutamakan keselamatan bekerja dan kenyamanan wisatawan.” Pariwisata sudah menjadi tulang punggung pendapatan daerah sehingga wisata bahari khususnya selam rekreasi, wajib dikembangkan bersama secara profesional. “Kami berharap seluruh mitra baik dari pemerintah, asosiasi, LSM dan pelaku usaha itu sendiri dapat bekerja sama untuk kepentingan industri wisata selam secara berkelanjutan.” Khususnya di Sulawesi Utara dengan daya tarik Taman Nasional Bunaken, data Dinas Pariwisata Sulawesi Utara menyebutkan kunjungan wisatawan mancanegara untuk wisata selam naik lebih dari 500% dalam 5 tahun terakhir. Dari tahun 2015 tercatat hanya 27.059 orang, melambung menjadi 127.879 orang dalam waktu 3 tahun saja. Tanpa pendekatan wisata selam yang ramah lingkungan, kondisi ini akan menjadi boomerang bagi Bunaken. Sementara itu, saat ini Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Likupang disahkan oleh Presiden Joko Widodo sehingga peluang ekonomi daerah dan nasional akan terbuka untuk mengembangkan wisata bahari di daerah ini. “Dengan adanya pengembangann KEK, besar harapan saya tekanan terhadap alam di Taman Nasional Bunaken dapat teredam. Keberadaan KEK akan memecah wisatawan yang saat ini terkonsentrasi hanya di satu kawasan. Intervensi manusia pada alam yang tidak terkendali akan secara langsung berdampak terhadap alam itu sendiri. Pada akhirnya, akan merusak daya tarik pariwisata di daerah itu sendiri. “ Pemerintah pusat dan daerah sebagai pemangku kepentingan utama juga perlu memperketat pengawasan daya tampung kawasan wisata sehingga kunjungan turis tidak berdampak langsung pada perusakan alam. “Kami meminta pemerintah daerah memiliki kebijakan khusus untuk mengatur kunjungan wisatawan di satu tempat dengan mempertimbangkan daya tampung daerah itu sendiri. Karena kekayaan alam yang berlimpah dengan didukung oleh pengelolaan oleh sumber daya manusia yang unggul akan menghasilkan manfaat untuk semua pihak,“ tambah Ricky. (end)

Untuk informasi lebih lanjut : Ricky Soerapoetra, Ketua Umum +6281274112888 infopuwsi@gmail.com www.puwsi.org